BAKTI SOSIAL DONOR DARAH


Hari sabtu berdarah di kantor kementerian agama kabupaten Ende.... Tetapi bukan karena ada peristiwa pelanggaran HAM. Hari ini, 17 Desember 2011, bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende dilangsungkan bakti sosial donor darah bagi RSUD oleh segenap karyawan-karyawati Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende. Kegiatan Bakti Sosial Donor Darah ini dilakukan bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia Kabupaten Ende. Pada kesempatan Donor Darah ini, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Yosef Nganggo, S.Ag menegaskan betapa pentingnya sumbangan darah kita bagi para pasien di rumah sakit yang sangat membutuhkannya. "Setetes darahmu, sangat berharga bagi mereka yang membutuhkannya..."

MEMBUKA HAB KE-66 BERNUANSA BAKSOSKES

Yosef Nganggo, S.Ag (Kakankemenag Kab. Ende) mendengarkan
laporan  panitia dari H. Pua Ibrahim, S.Pd (ketua panitia)
Hari Jumad, 09 Desember 2011, bertempat di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, tepat pukul 16.30 WITA telah dibuka seluruh rangkaian kegiatan perayaan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-66, tingkat Kabupaten Ende. Kegiatan pembukaan ini ditandai oleh apel bersama yang dipimpin oleh kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Bapak Yosef Nganggo, S.Ag. Sebagaimana telah ditetapkan pada awal pembentukan panitia kegiatan HAB ke-66 tingkat kabupaten Ende, maka HAB tahun 2012 akan diarahkan sepenuhnya pada bakti sosial kesehatan (Baksoskes).
Kegiatan Baksoskes HAB ke-66 Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende ini dilakukan dengan dua agenda menarik yakni, pertama: Bakti Sosial Donor Darah bagi RSUD Ende yang diselenggarakan pada tanggal 17 Desember 2011. Kedua, Bakti Sosial Pengobatan Gratis Bagi masyarakat beragama di Kecamatan Nangapanda. Kegiatan Bakti Sosial Pengobatan Gratis ini berlokasi di dua tempat yakni di Desa Rapowawo Paroki Bunda Karmel Rajawawo pada tanggal 18 Desember 2011 dan di Desa Nggorea, Kecamatan Nangapanda pada tanggal 22 Desember 2011.
Tentu akan menjadi pertanyaan besar, bagaimana mungkin Kantor Agama dapat menyelenggarakan bakti sosial kesehatan? Sangat jauh dari tusi pembinaan keagamaan yang diemban kementerian agama, bukan?

HAB ke-66 Tingkat Kementerian Agama Kabupaten Ende Berorientasi pada Kesehatan Masyarakat

Setiap tanggal 03 Januari setiap tahun, Kementerian Agama RI merayakan hari lahirnya. Hari lahirnya Lembaga Kementerian Agama RI ini dikenal dengan sebutan “Hari Amal Bakti”. Merujuk pada sebutan ini, setiap satker pada lingkup Kementerian Agama, baik di tingkat pusat sampai Kabupaten/Kota melakukan perencanaan, “Amal bakti apa yang mesti diupayakan sebagai fokus perhatian penyelenggaraan HAB”. Penyelenggaraan HAB RI ke-66 Tingkat Kementerian Agama Kabupaten Ende memfokuskan perhatian pada upaya kesehatan masyarakat. Dalam upaya ini, segenap satker pada lingkup Kantor Kementerian Agama bermufakat untuk membentuk panitia khusus yang disahkan dengan Surat Keputusan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende Nomor: Kd.20.08/1/HM.00/1976/2011 tanggal 23 Nopember 2011. Kepanitiaan ini melibatkan semua pegawai pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, para Kepala KUA Kecamatan, Madrasah-Madrasah Negeri dan Swasta se- Kabupaten Ende, para Guru dan Pengawas di lingkup Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, para penyuluh agama dan penghulu.

PELANTIKAN PEJABAT ESELON IV LINGKUP KEMENTERIAN AGAMA KAB. ENDE

        Pada hari Senin, 07 November 2011 bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende telah berlangsung upacara pelantikan pejabat eselon IV di lingkup Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende. Pejabat yang dilantik adalah Drs. Nikolaus Nuka sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha. Sebelumnya beliau menjabat sebagai Kepala Seksi Pendidikan Agama Katolik pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende selama 8 tahun. Pejabat berikutnya adalah Aloysius Hari, S.Ag sebagai Kepala Seksi Urusan Agama Katolik, sebelumnya beliau adalah staf administrasi pada Seksi Pendidikan Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende.

MEMBANGUN SPIRITUALITAS KEKITAAN

Apel Kesadaran yang diikuti dengan rapat koordianasi tingkat madrasah negeri sekabupaten Ende diselenggarakan di Madrasah Tsanawiyah Negeri Wolowaru di Wolowaru. Kegiatan koordinasi pendidikan keagamaan pada madrasah negeri sekabupaten Ende oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende pada tanggal 17 Oktober 2011 sebagai salah satu upaya menata Kementerian Agama Kabupaten Ende menuju Ende BERNAS yakni Masyarakat Beriman, Cerdas, Rukun dan Sejahtera.
       Pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende telah dibangun komitmen bersama segeap jajaran Kementerian Agama Kabupaten Ende untuk membangun spiritualitas kekitaan, menendang sekat-sekat pemisah guna memperkuat sinergisitas dalam mewujudkan pembangunan bidang agama.

MENUJU PENDIDIKAN AGAMA BERWAWASAN MULTIKULTURAL


ORIENTASI DAN TRANSFORMASI
MENUJU PENDIDIKAN AGAMA BERWAWASAN MULTIKULTURAL


 Materi ini disampaikan oleh Romo Dr. Dominikus Nong, Pr (Ketua STIPAR Ende) pada kesempatan pengambangan wawasan multikultural bagi para guru pendidikan agama lintas agama tingkat Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende.

Pendidikan adalah suatu bagian integral dari seluruh hidup manusia. Pendidikan merupakan suatu proses yang terjadi bersama dengan seluruh proses perkembangan hidup manusia. Karena itu pendidikan dalam arti luas harus dipahami sebagai suatu proses yang terjadi sepanjang hidup manusia, walaupun secara formal pendidikan itu dipenggal-penggal dan dibatasi oleh lamanya waktu dan jenjang.
Di dalam pendidikan sebagai proses itu terjadilah formasi dan transformasi pribadi manusia secara kognitif, affektif dan psikomotorik. Melalui pendidikan manusia dibentuk dan diubah, atau manusia membentuk pribadinya dan mengubah dirinya. Pembentukan dan perubahan ini harus dipahami sebagai suatu proses pembebasan dan sekaligus pemberdayaan pribadi manusia. Dikatakan sebagai proses pembebasan karena pendidikan merupakan proses menuntun/membimbing manusia keluar atau membebaskan manusia dari kemiskinan (kekurangan) akan wawasan pengetahuan, nilai dan sikap pribadi, serta ketrampilan hidup. Dikatakan sebagai proses pemberdayaan karena pendidikan merupakan suatu proses memberi daya atau memampukan manusia untuk mengelola  wawasan pengetahuan, sikap dan ketrampilan pribadi.

Wawasan Multikultural Bagi Guru Agama Ende

(Tampak dalam gambar: Dr.phl. Norbert Jegalus, MA sedang menyampaikan materi didampingi oleh John B. Seja, S.Fil (Plt Kasubag Kantor Kemenag Kab. Ende)

Tak sulit membayangkan betapa rawannya Indonesia dengan konflik sosial karena beragamnya budaya, suku, bahasa, dan juga agama yang berada di sekitar 17.500 buah pulau dalam 3.200 mil lautan. Bangsa Indonesia kini berjumlah lebih dari 200 juta, mayoritas beragama Islam, dengan pengakuan lima agama lain secara formal. Demikian juga kondisi Nusa Tenggara Timur dan secara khusus kabupaten Ende yang dapat diibaratkan sebagai “Indonesia mini” dalam keragaman agama, budaya,  suku dan bahasa.